Disebuah sofa Rumah Sakit aku terduduk. Terpaku beberapa
saat memandang kosong kaki kananku yang
terbalut perban putih. Perban yang inginku lepas dari beberapa hari kemarin.
Tak nyaman meski lebih dari satu bulan aku telah bersamanya. Banyak tertulis
tanda tangan teman-temanku yang menjenguk seminggu yang lalu disekitarnya.
Perhatianku tertuju pada sebuah tanda tangan paling besar, milik mantan calon
istriku. Cerita yang panjang. Kalian tidak ingin mendengarnya.
"Mas? Kalau mau masuk ke kamar lagi, panggil saya saja
ya!" Ucap seorang Perawat padaku.
Dia menyarankan untuk tetap dikamar untuk mempercepat
pengeringan luka dikaki kananku ini. Tapi hari ini aku tidak akan melewatkan
begitu saja sebuah pertandingan sepak bola terbesar abad dua puluh satu. Malam
puncak final liga Champion klub Real Madrid dan FC Barcelona. Menginap seminggu atau dua minggu lagi di Rumah Sakit
ini tak masalah, pikirku. Untuk makan pun masih ada yang mengambilkannya.
Pihak Rumah Sakit tidak mengizinkan pemindahan Televisi ke
kamarku sendiri. Aku harus memohon pada para perawat setidaknya membiarkan aku
menonton diruangan ini. Diruangan dekat
lobby tempat biasanya orang menunggu atau mengantar keluarganya berobat.
"Iya Mbak! Makasih!" Jawabku.
Beberapa menit lagi pertandingan akan segera dimulai. Aku
mempersiapkan Popcorn dan minuman
kola disampingku. Jersey Real Madrid
dan terompet bekas tahun baru kemarin juga melengkapi semuanya. Tak masalah
jika harus membuat bising di rumah sakit ini. Tentunya supaya mereka keluar
menemaniku. Aku tak berharap banyak, Kakek-kakek penderita asma-pun tak
masalah.
Selang beberapa menit, seorang wanita berbadan dua
menghampiri ujung kanan sofa yang aku duduki. Dia nampak kesulitan untuk duduk
dengan perutnya yang terlihat besar. Dengan kaki kananku yang seperti sekarang,
aku tidak bisa berbuat banyak selain berdoa untuknya.
Akhirnya dia bisa menempatkan diri diatas Sofa. Melihat
keberadaanku, diapun tersenyum. Aku membalasnya dengan senyuman yang tak kalah
manisnya. Mencoba dengan se-natural mungkin. Meski yang aku takutkan sebenarnya
suaminya datang menghajarku, membuat kaki kiriku menemani yang kanan.
"Wahhh, Mas nya dedemit ya?" Tanya wanita itu.
Memegangi perutnya sembari mencari kembali posisi yang aman untuk duduk.
"Hah? Eh.. Apa?" Aku terlalu kaget untuk membalas
pertanyaannya.
Dia tersenyum lagi.
"Mas Fans-nya Real Madrid?" Tanyanya lagi.
"Oh.. iya mbak!" Jawabku.
Pertandingan sudah dimulai. Mataku kini tertuju pada layar
kaca yang ada didepan. Dan mungkin begitu pula dengan matanya.
"Malam ini Barcelona pasti menang!" Ucapnya.
Sepertinya aku punya kawan untuk berdebat dan menceritakan
banyak sejarah disini. Sebagai permulaan, aku membalas dengan sunggingan tawa
kecil untuk menanggapinya. Akhirnya kita mengobrol cukup lama membahas banyak
hal tentang dua klub besar ini. Awalnya aku cukup meremehkan pengetahuannya
tentang sepak bola. Tapi pengetahuannya cukup membuatku terkesan. Bahkan dia
tahu beberapa hal yang tidak aku ketahui.
Tak lama dari situ, seorang pemain dari klub Barcelona
berhasil menyarangkan bola ke gawang kiper dari klub lawannya, Real Madrid.
Jangan tanyakan ekspresi wajahku tentang ini.
Wanita itu berteriak meski tidak terlalu keras. Tidak cukup
untuk mengundang kakek-kakek berpenyakit asma. Tapi tentunya tetap membuatku
kesal.
"Tuh kan! Aku bilang juga apa?" Ucapnya
kegirangan.
"Waktu masih lama mbak! Masih bisa dibalas!"
Bantahku.
Akhirnya pertandingan pun berlanjut, kami melanjutkan
obrolan kami dengan beberapa kali terdengar cukup keras. Perlahan-lahan kami
lupa diri sehingga tertawa kami keras jauh dari seharusnya. Wanita ini terlalu
asik untuk diajak bicara. Hidupnya seolah tanpa beban. Berbeda denganku yang
bebannya selalu hidup. Beberapa perawat menegur kami supaya lebih pelan dan
tidak berisik. Namun beberapa kali lagipun kami terdengar sangat keras. Aku
pikir sebenarnya tak masalah, bahkan kami belum berhasil mengundang kakek-kakek
berpenyakit asma kesini.
Selang beberapa menit pula, kembali klub FC Barcelona membuat jauh keunggulan
dari Real Madrid. Jika ada aspirin
disampingku, aku akan menelannya sekarang. Pertandingan pun selesai. Dengan
hasil akhir 2-0 untuk keunggulan FC Barcelona.
Wanita itu terus berkicau ria disampingku. Mendendangkan chant klub kesayangannya sendiri. Aku terdiam sembari melirik
kearah ponselku yang ramai dengan pesan ejekan teman-temanku.
"Mbak, mohon maklum aja ya! Real Madrid lagi banyak kena musibah. Ditinggal pemain terbaiknya,
pelatih terbaiknya. Dan banyak hal lainnya deh!" Bantahku lagi.
Supaya tidak terlalu malu, aku harus mengungkapkan apa yang
bisa menjadi alibi kuat atas kekalahan ini. Tugas paling mulia dari seorang
fans atas kekalahan klub kesayangannya. Aku tidak boleh terlihat lemah.
"Loh? Kan masih ada pemain lain yang bagus. Gimana bisa itu disebut musibah?" Elaknya.
"Yahh Si Mbak! Kalau gitu ceritanya, kalau kaki kanan
saya luka sedangkan kaki kiri saya enggak, itu gak bisa disebut musibah
dong!" Kilahku.
"Kita harus berpikir.. Selalu ada yang bisa disyukuri
dari setiap kejadian! Kita itu.."
Aku memotong pembicaraannya untuk menguatkan alibiku. Walau sebenarnya
aku hanya ingin menyebut ini sebagai candaan.
"Mbak gak pernah kaki kanan Mbak separah ini! Mbak juga
gak pernah jari telunjuk tangan mbak se...” Ucapku dengan senyuman menyebalkan.
Namun wanita ini memotong ucapanku dengan cepat.
"Kamu gak pernah sakit hati separah ini! Kamu juga gak
pernah remuk seperti hati ini!"
Ucap wanita itu teriak dengan wajah menatap kearah lain. Mungkin dengan
spontan. Aku menelan ludahku sendiri.
“Kamu gak pernah ditinggal suami kamu lagi butuh-butuhnya!”
Tambahnya lagi lemas.
Aku tidak menyangka mendengar ini dari seseorang yang baru
aku temui hari ini. Bahkan namanya saja aku tidak tahu. Terdengar sangat
depresif dan menyakitkan untuk didengar. Beberapa detik dari situ kami berdiam
diri. Berpacu dengan pikiran masing-masing, masih mencoba mengerti kejadian
yang baru saja terjadi. Setelah menarik nafas panjang, aku memutar otakku untuk
mengatakan sesuatu yang sebenarnya tak ingin aku katakan. Terlebih dia adalah
orang asing. Namun aku akan mengatakannya. Aku akan mengatakannya.
"Setahun lalu, aku merencanakan pernikahanku dengan
pacarku. Setelahnya, aku sudah mempersiapkan banyak hal. Mas kawin, tempat,
Undangan. Bahkan aku sudah menyiapkan kasur yang empuk." Ucapku perlahan.
Candaanku tak mampu membuatnya tersenyum. Bahkan tanpa
melihatnya pun, aku sudah tahu bahwa wanita ini sedang menangis sekarang. Oh
ayolah, Kakek-kakek berpenyakit asma datang dan bantu aku.
Perlahan aku Tarik lagi nafasku dalam-dalam untuk menyiapkan
ucapanku selanjutnya.
“Dua bulan sebelum pernikahan, calonku gak mau ngelanjutin
pernikahan ini. Dia bilang, kita udah gak cocok. Kalau kita lanjutin pun,
salah-satu diantara kita pasti ada yang tersakiti. Dan ya, segala bullshit yang dia ucapkan!” Ucapku.
“Dari situ aku marah, aku bawa motorku kencang sehabis dari
rumahnya. Dan kecelakaan itu pun terjadi. Motorku menabrak tiang, jari telunjuk
tangan kananku patah, kaki kananku terjepit dan.. Dompetku hilang mbak!” Ucapku
lagi.
Masih mencoba untuk membuatnya berhenti menangis. Sepertinya
cukup berhasil. Tak terdengar lagi isakan tangis itu. Aku tak berani menatap
wajahnya sama sekali. Wajahku masih memandang layar kaca didepanku. Melihat FC Barcelona mengangkat piala berbentuk
cangkir besar. Aku menangis dua kali dalam hati malam ini.
Suasana pun hening beberapa saat.
“Hidup itu jahat!” Ucapnya tiba-tiba.
“Selalu ada yang bisa disyukuri dari setiap kejadian!”
Ucapku. Mengulang perkataan Wanita ini sebelumnya.
Dia tersenyum. Perlahan-lahan dia melebarkan senyumnya lebih
lebar lagi, lalu tertawa. Kini aku berani menatapnya, membalas tawanya yang
cukup lepas dan bebas. Momen yang sangat aneh karena beberapa menit sebelumnya,
kami berada Dalam suasana yang cukup tegang dan menyebalkan untuk diingat.
beberapa detik selanjutnya kami berhenti tertawa. Dia bangkit dari sofa
beranjak pergi. Menatapku sekali lagi, lalu tersenyum.
“Aku pamit dulu! Jangan susah tidur ya! FC Barcelona bakalan
menang dipertandingan-pertandingan selanjutnya loh!” Ucapnya.
Aku membalasnya dengan senyuman. Dia membalikkan badannya
lalu berjalan perlahan. Aku harus mengatakan ucapan perpisahan yang bagus,
sebelum dia benar-benar pergi. Dan mungkin aku tidak akan bertemu dengannya
lagi.
“Namaku Bojes. Mungkin kita bisa minum kopi bareng suatu
saat!” Teriakku.
Wanita itu membalikkan badannya lagi.
“Namaku Ayu!” Ucapnya sambal tersenyum. Tak lebih dan tak
kurang.
Komentar
Posting Komentar