Kami terdiri dari banyak perkumpulan. Mulai dari PPIT (Perhimpunan
Pelajar Indonesia Turki), IKAMAT (Ikatan Masyarakat Aceh di Turki), ACT (Aksi
Cepat Tanggap), LMA (Lentera Muda Aceh), APP (Aksi Psikologi Peduli) dan
beberapa Volunteer yang menyengajakan dirinya untuk mengikuti acara ini.
Wajar bila kami berkenalan terlebih dahulu, sebelum pada akhirnya jiwa
kekeluargaan kami sangat terbentuk. Dan kami melebur menjadi sebuah kesatuan,
Tim Mentari dari Turki 2019.
Kami berangkat sekitar jam sembilan pagi menuju salah-satu
desa di kecamatan Pulo Aceh, tepatnya di pulau Breuh, yaitu Desa Meulingge. Yang
belakangan aku ketahui, Breuh adalah Beras dalam bahasa Aceh. Ada dua kapal yang akan mengantar kami. Yang satu mengantar tim perempuan, dan yang satu lagi
mengantar barang dan juga kami selaku tim laki-laki. Perjalanan laut yang cukup
ekstrim bagiku, meski salah-satu tim berkata padaku “Tenang bang! Tidak akan
seperti yang ada dalam televisi!”. Aku pikir aku sedang dalam Televisi pada saat
itu. Kami tiba dengan selamat.
Esok harinya, Mentari Dari Turki (MDT) pun dimulai. Acara kami
berupa Bakti Sosial, Penyuluhan dan Pembangunan Desa. Aku tidak akan bercerita bagaimana
acara MDT ini berlangsung. Aku hanya akan bercerita hal yang
membuat acara ini spesial.
Mungkin kalian bertanya-tanya apa yang begitu spesial
dari acara seperti ini?
Kami mendapatkan cerita, pengalaman, pemikiran dan memori
yang tak mungkin semua orang miliki. Masyarakat desa Meulingge memberi kami
lebih dari apa yang kami beri.
Desa Meulingge
Desa Meulingge adalah desa indah diujung paling barat negara
kita tercinta Indonesia. Warga setempat bilang, ujung paling barat Indonesia
sebenarnya adalah Pulau Breuh ini, bukan Pulau Sabang. Yang sebagaimana kita
ketahui, monumen 0 kilometer terletak di pulau Sabang.
Desa Meulingge mempunyai pantai indah yang setidaknya,
satu kali dalam seumur hidup harus kalian kunjungi. Pantai yang asri dikepung
dua bukit hijau di kiri dan kanan. Meskipun cukup banyak sampah kiriman dari
luar negeri di sana, tak mampu menutupi keindahan pantai yang tiap pagi dan
senja ini kami kunjungi. Biasanya kami duduk-duduk dipinggir pantai sambil
mengobrol dan bercengkerama tentang hari-hari kami. Tak jarang kami ikut mencari hewan laut bersama penduduk yang tengah melewat kami.
Jalan-jalan yang ada di desa Meulingge pun sangat berkenang
dihati kami. Kalian tidak akan menjumpai asap kendaraan berlebihan, asap
pabrik, atau hal yang membuat sesak pernafasan kalian lainnya di sana. kecuali
kalau kalian berjumpa dengan mantan di sana ya... Di kiri dan kanan begitu hijau
dan alami. Tapi hati-hati! Masyarakat Desa Meulingge banyak yang memelihara
Lembu. Oleh karena itu, beberapa jalan terkadang memiliki bau kotoran Lembu
yang cukup mengganggu. Tapi karena kotoran lembu itulah, Desa ini menjadi
sangat subur loh. Lembu-lembu ini biasanya nongkrong di pinggir atau bahkan tengah jalan di desa Meulingge. Alasan mereka membiarkannya di luar, karena sebagian besar dari mereka tidak memiliki kandang sendiri. Lagi pula, mereka saling percaya tidak akan ada yang akan mencuri lembu-lembu ini.
Tak lupa yang mungkin menjadi ikon desa ini, yaitu Mercusuar
Willem Toren III. Kalian bisa bayangkan berdiri tinggi di atas ketinggian
menikmati keindahan panorama ujung paling barat Indonesia. Hanya terdapat 3
Mercusuar jenis ini di seluruh dunia. Di Belanda, Karibia dan Pulau Breuh, Pulo
Aceh. Oh iyaa.. Lupa bilang nih! Di desa meulingge kalian bakal kesulitan cari
sinyal loh. Maka dari itu, tim MDT biasanya pergi ke tempat ini untuk menikmati
pemandangan sekaligus mencari sinyal. Hehe
Pengalaman yang begitu spesial, bukan?
Penduduk Desa Meulingge
Dikelilingi oleh keterbatasan, tidak membuat penduduk desa
ini menurunkan rasa kebaikan, rasa kebersaudaraan, dan keramah-tamahan mereka. Mau kaum yang muda,
tua atau pun anak kecil, semua tak ada bedanya. Hampir di setiap kami sedang
berjalan, penduduk yang lewat atau sedang berkendara dengan sepeda motor selalu
tersenyum kepada kami. Tak jarang, kami pun ikut diantar ke mana kami mau. Tahu
gak? Setiap mereka mematikan mesin sepeda motor, mereka akan meninggalkan
kuncinya menancap dalam tempatnya. Waw banget kan? Kalau di Jakarta mungkin sudah hilang diambil orang. haha
Atau juga, mereka
menyapa kami ketika di warung kopi dan kami saling bertukar cerita selanjutnya. Aku mengingat anak-anak muda yang mengajakku makan gurita hasil tangkapan mereka. "Ayo! Gurita campur Indomie mantap!" Ucap salah-satu diantara mereka. Juga ketika aku sedang berwudhu, salah-satu pemuda menghampiriku dan memberikan aku sebuah peci dengan motif khas Aceh.
Anak-anak kecil di sana pun sangat manis dan polos. Kalau kalian bertanya pada mereka tentang Atta Halilintar, jangan berharap ada yang memahaminya. haha. Ada seorang anak kecil bernama Sya'ban. Yang selalu membuntutiku ke manapun aku pergi. Awalnya aku kesal karena dia memakai bahasa Aceh yang tidak aku pahami, terlebih dia anak yang terlampau hyperactive. Untuk meladeninya pun, aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi justru dari situlah aku termotivasi belajar bahasa Aceh. Dan sedikitnya aku mulai memahami apa yang dia ucapkan.
Suatu hari ketika kami mengunjungi salah-satu rumah penduduk, kami ditawari minum dan dengan lembut kami menolak dengan alasan ada program lain yang harus kami lakukan. Bapak Bakhtiar, sang empunya rumah berkata “Kalau kalian gak mau minum dulu, kalian jangan kesini lagi!”. Dan akhirnya kami berjam-jam larut dalam percakapan. Bapak ini juga lah yang kami kenal dengan bapak "jangan nangis". Karena pada suatu malam, ketika tim sedang berkumpul dia mengatakan "Jangan nangis!" kepada salah-satu tim dengan nada yang aneh dan lucu. Dari situlah tercipta slogan tidak resmi MDT, #Jangannangis. haha
Mereka juga tak segan menawari kami, apa yang mereka punya untuk dihidangkan kepada kami selaku pendatang di sana. Terkadang, kami meminta kelapa muda dari mereka dan mereka selalu menjawab “Ambil saja!” Padahal kalau di kotaku, hukum kapitalis sudah berlaku. Haha
Anak-anak kecil di sana pun sangat manis dan polos. Kalau kalian bertanya pada mereka tentang Atta Halilintar, jangan berharap ada yang memahaminya. haha. Ada seorang anak kecil bernama Sya'ban. Yang selalu membuntutiku ke manapun aku pergi. Awalnya aku kesal karena dia memakai bahasa Aceh yang tidak aku pahami, terlebih dia anak yang terlampau hyperactive. Untuk meladeninya pun, aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi justru dari situlah aku termotivasi belajar bahasa Aceh. Dan sedikitnya aku mulai memahami apa yang dia ucapkan.
Suatu hari ketika kami mengunjungi salah-satu rumah penduduk, kami ditawari minum dan dengan lembut kami menolak dengan alasan ada program lain yang harus kami lakukan. Bapak Bakhtiar, sang empunya rumah berkata “Kalau kalian gak mau minum dulu, kalian jangan kesini lagi!”. Dan akhirnya kami berjam-jam larut dalam percakapan. Bapak ini juga lah yang kami kenal dengan bapak "jangan nangis". Karena pada suatu malam, ketika tim sedang berkumpul dia mengatakan "Jangan nangis!" kepada salah-satu tim dengan nada yang aneh dan lucu. Dari situlah tercipta slogan tidak resmi MDT, #Jangannangis. haha
Mereka juga tak segan menawari kami, apa yang mereka punya untuk dihidangkan kepada kami selaku pendatang di sana. Terkadang, kami meminta kelapa muda dari mereka dan mereka selalu menjawab “Ambil saja!” Padahal kalau di kotaku, hukum kapitalis sudah berlaku. Haha
Kondisi Desa Meulingge
Meski begitu, desa ini memang tertinggal. Dari mulai
minimnya fasilitas kesehatan, Fasilitas Pendidikan, Fasilitas kerja hingga
minimnya sinyal telepon.
Ada sebuah PUSKESMAS, yang mereka bilang hanya sekali selama
satu bulan ditempati oleh Dokter atau Bidan. Itu pun hanya empat hari. Berbeda
lagi dengan Fasilitas Pendidikan, desa ini hanya memiliki sebuah Sekolah Dasar
yang sangat apa adanya. Meskipun ketika kami di sana, tiga di antara enam kelas
sedang di renovasi. Desa Meulingge tidak memiliki SMP dan SMA. Untuk
melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi mereka harus pergi ke desa
sebelah. Dan untuk melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi, mereka harus menyeberang
Pulau di Sumatera.
Dan untuk mata-pencaharian utama Penduduk desa Meulingge
adalah, Nelayan dan Petani. Meski harga beberapa ikan atau Gurita kerap menurun,
dalam hal kelautan, mereka tidak memiliki kendala yang begitu banyak. Tapi
dalam hal pertanian, mereka mempunyai beberapa masalah. Diantara-Nya teknologi
yang tidak cukup memadai, hama, cuaca, serangan hewan liar dan lainnya. Yang
tentunya menghambat aktivitas pekerjaan dari penduduk setempat.
Desa ini pun tidak memiliki pemancar sinyal yang kuat. Yang
tentunya juga, sangat menghambat arus informasi yang datang dari luar. Untuk
mendapat sinyal yang kuat, kita harus pergi ke beberapa tempat yang kuat dengan
sinyalnya. Salah-satunya adalah Mercusuar tadi.
Desa ini masih menjadi Desa yang dibina oleh Mentari Dari
Turki selama satu tahun ke depan. Maka dari itu, bagi kalian yang berjiwa besar
bisa ikut membantu Desa Meulingge ini disektor apa pun melalui Mentari Dari
Turki. Boleh follow akun Instagramnya ya @Mentaridariturki.
……
Mungkin cukup sekian, cerita dan pengalaman kami di Desa Meulingge
ini. Tertanggal dari 13 sampai 20 Agustus kami di sana. Berbicara, mendengar,
memberi, menerima, dan bertindaklah yang telah kami lakukan. Semoga apa yang
telah kami lakukan menjadi bekal tersendiri bagi kami dimasa kini dan masa depan,
untuk lebih membuka mata dan saling peduli. Juga menjadi berkah dan faedah bagi
penduduk desa dimasa kini dan masa depan atas sedikitnya hal yang kami lakukan.
Hari-hari yang tidak akan kami lupakan sampai akhir hayat
kami. Desiran ombak pantai, bau laut yang khas, senyuman manis anak kecil, tawa
heboh penduduk desa, dan senja di desa Meulingge.




Komentar
Posting Komentar