Langsung ke konten utama

MENTARI DARI TURKI ; Senja di desa Meulingge!




 Pagi yang cerah untuk mendampingi keberangkatan tim Mentari dari Turki. Sekitar tiga puluh lebih orang termasuk aku, membentuk beberapa grup Kecil yang tersebar didepan Rumah Sakit Malahayati, Banda Aceh. Kami berbicara tentang bagaimana kami sampai disini, apa yang akan kami dilakukan disana, atau hal-hal lain seperti perkenalan dan cerita diri.

Kami terdiri dari banyak perkumpulan. Mulai dari PPIT (Perhimpunan Pelajar Indonesia Turki), IKAMAT (Ikatan Masyarakat Aceh di Turki), ACT (Aksi Cepat Tanggap), LMA (Lentera Muda Aceh), APP (Aksi Psikologi Peduli) dan beberapa Volunteer yang menyengajakan dirinya untuk mengikuti acara ini. Wajar bila kami berkenalan terlebih dahulu, sebelum pada akhirnya jiwa kekeluargaan kami sangat terbentuk. Dan kami melebur menjadi sebuah kesatuan, Tim Mentari dari Turki 2019.

Kami berangkat sekitar jam sembilan pagi menuju salah-satu desa di kecamatan Pulo Aceh, tepatnya di pulau Breuh, yaitu Desa Meulingge. Yang belakangan aku ketahui, Breuh adalah Beras dalam bahasa Aceh. Ada dua kapal yang akan mengantar kami. Yang satu mengantar tim perempuan, dan yang satu lagi mengantar barang dan juga kami selaku tim laki-laki. Perjalanan laut yang cukup ekstrim bagiku, meski salah-satu tim berkata padaku “Tenang bang! Tidak akan seperti yang ada dalam televisi!”. Aku pikir aku sedang dalam Televisi pada saat itu. Kami tiba dengan selamat.

Esok harinya, Mentari Dari Turki (MDT) pun dimulai. Acara kami berupa Bakti Sosial, Penyuluhan dan Pembangunan Desa. Aku tidak akan bercerita bagaimana acara MDT ini berlangsung. Aku hanya akan bercerita hal yang membuat acara ini spesial.

Mungkin kalian bertanya-tanya apa yang begitu spesial dari acara seperti ini?
Kami mendapatkan cerita, pengalaman, pemikiran dan memori yang tak mungkin semua orang miliki. Masyarakat desa Meulingge memberi kami lebih dari apa yang kami beri.


Desa Meulingge

Desa Meulingge adalah desa indah diujung paling barat negara kita tercinta Indonesia. Warga setempat bilang, ujung paling barat Indonesia sebenarnya adalah Pulau Breuh ini, bukan Pulau Sabang. Yang sebagaimana kita ketahui, monumen 0 kilometer terletak di pulau Sabang.
Desa Meulingge mempunyai pantai indah yang setidaknya, satu kali dalam seumur hidup harus kalian kunjungi. Pantai yang asri dikepung dua bukit hijau di kiri dan kanan. Meskipun cukup banyak sampah kiriman dari luar negeri di sana, tak mampu menutupi keindahan pantai yang tiap pagi dan senja ini kami kunjungi. Biasanya kami duduk-duduk dipinggir pantai sambil mengobrol dan bercengkerama tentang hari-hari kami. Tak jarang kami ikut mencari hewan laut bersama penduduk yang tengah melewat kami. 

Jalan-jalan yang ada di desa Meulingge pun sangat berkenang dihati kami. Kalian tidak akan menjumpai asap kendaraan berlebihan, asap pabrik, atau hal yang membuat sesak pernafasan kalian lainnya di sana. kecuali kalau kalian berjumpa dengan mantan di sana ya... Di kiri dan kanan begitu hijau dan alami. Tapi hati-hati! Masyarakat Desa Meulingge banyak yang memelihara Lembu. Oleh karena itu, beberapa jalan terkadang memiliki bau kotoran Lembu yang cukup mengganggu. Tapi karena kotoran lembu itulah, Desa ini menjadi sangat subur loh. Lembu-lembu ini biasanya nongkrong di pinggir atau bahkan tengah jalan di desa Meulingge. Alasan mereka membiarkannya di luar, karena sebagian besar dari mereka tidak memiliki kandang sendiri. Lagi pula, mereka saling percaya tidak akan ada yang akan mencuri lembu-lembu ini. 

Tak lupa yang mungkin menjadi ikon desa ini, yaitu Mercusuar Willem Toren III. Kalian bisa bayangkan berdiri tinggi di atas ketinggian menikmati keindahan panorama ujung paling barat Indonesia. Hanya terdapat 3 Mercusuar jenis ini di seluruh dunia. Di Belanda, Karibia dan Pulau Breuh, Pulo Aceh. Oh iyaa.. Lupa bilang nih! Di desa meulingge kalian bakal kesulitan cari sinyal loh. Maka dari itu, tim MDT biasanya pergi ke tempat ini untuk menikmati pemandangan sekaligus mencari sinyal. Hehe

Pengalaman yang begitu spesial, bukan?


Penduduk Desa Meulingge


Dikelilingi oleh keterbatasan, tidak membuat penduduk desa ini menurunkan rasa kebaikan, rasa  kebersaudaraan,  dan keramah-tamahan mereka. Mau kaum yang muda, tua atau pun anak kecil, semua tak ada bedanya. Hampir di setiap kami sedang berjalan, penduduk yang lewat atau sedang berkendara dengan sepeda motor selalu tersenyum kepada kami. Tak jarang, kami pun ikut diantar ke mana kami mau. Tahu gak? Setiap mereka mematikan mesin sepeda motor, mereka akan meninggalkan kuncinya menancap dalam tempatnya. Waw banget kan? Kalau di Jakarta mungkin sudah hilang diambil orang. haha


Atau juga, mereka menyapa kami ketika di warung kopi dan kami saling bertukar cerita selanjutnya. Aku mengingat anak-anak muda yang mengajakku makan gurita hasil tangkapan mereka. "Ayo! Gurita campur Indomie mantap!" Ucap salah-satu diantara mereka. Juga ketika aku sedang berwudhu, salah-satu pemuda menghampiriku dan memberikan aku sebuah peci dengan motif khas Aceh.

Anak-anak kecil di sana pun sangat manis dan polos. Kalau kalian bertanya pada mereka tentang Atta Halilintar, jangan berharap ada yang memahaminya. haha. Ada seorang anak kecil bernama Sya'ban. Yang selalu membuntutiku ke manapun aku pergi. Awalnya aku kesal karena dia memakai bahasa Aceh yang tidak aku pahami, terlebih dia anak yang terlampau hyperactive. Untuk meladeninya pun, aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi justru dari situlah aku termotivasi belajar bahasa Aceh. Dan sedikitnya aku mulai memahami apa yang dia ucapkan.

Suatu hari ketika kami mengunjungi salah-satu rumah penduduk, kami ditawari minum dan dengan lembut kami menolak dengan alasan ada program lain yang harus kami lakukan. Bapak Bakhtiar, sang empunya rumah berkata “Kalau kalian gak mau minum dulu, kalian jangan kesini lagi!”. Dan akhirnya kami berjam-jam larut dalam percakapan. Bapak ini juga lah yang kami kenal dengan bapak "jangan nangis". Karena pada suatu malam, ketika tim sedang berkumpul dia mengatakan "Jangan nangis!" kepada salah-satu tim dengan nada yang aneh dan lucu. Dari situlah tercipta slogan tidak resmi MDT, #Jangannangis. haha

Mereka juga tak segan menawari kami, apa yang mereka punya untuk dihidangkan kepada kami selaku pendatang di sana. Terkadang, kami meminta kelapa muda  dari mereka dan mereka selalu menjawab “Ambil saja!” Padahal kalau di kotaku, hukum kapitalis sudah berlaku. Haha

Kondisi Desa Meulingge

Meski begitu, desa ini memang tertinggal. Dari mulai minimnya fasilitas kesehatan, Fasilitas Pendidikan, Fasilitas kerja hingga minimnya sinyal telepon.

Ada sebuah PUSKESMAS, yang mereka bilang hanya sekali selama satu bulan ditempati oleh Dokter atau Bidan. Itu pun hanya empat hari. Berbeda lagi dengan Fasilitas Pendidikan, desa ini hanya memiliki sebuah Sekolah Dasar yang sangat apa adanya. Meskipun ketika kami di sana, tiga di antara enam kelas sedang di renovasi. Desa Meulingge tidak memiliki SMP dan SMA. Untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi mereka harus pergi ke desa sebelah. Dan untuk melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi, mereka harus menyeberang Pulau di Sumatera.

Dan untuk mata-pencaharian utama Penduduk desa Meulingge adalah, Nelayan dan Petani. Meski harga beberapa ikan atau Gurita kerap menurun, dalam hal kelautan, mereka tidak memiliki kendala yang begitu banyak. Tapi dalam hal pertanian, mereka mempunyai beberapa masalah. Diantara-Nya teknologi yang tidak cukup memadai, hama, cuaca, serangan hewan liar dan lainnya. Yang tentunya menghambat aktivitas pekerjaan dari penduduk setempat.


Desa ini pun tidak memiliki pemancar sinyal yang kuat. Yang tentunya juga, sangat menghambat arus informasi yang datang dari luar. Untuk mendapat sinyal yang kuat, kita harus pergi ke beberapa tempat yang kuat dengan sinyalnya. Salah-satunya adalah Mercusuar tadi.
Desa ini masih menjadi Desa yang dibina oleh Mentari Dari Turki selama satu tahun ke depan. Maka dari itu, bagi kalian yang berjiwa besar bisa ikut membantu Desa Meulingge ini disektor apa pun melalui Mentari Dari Turki. Boleh follow akun Instagramnya ya @Mentaridariturki.




……


Mungkin cukup sekian, cerita dan pengalaman kami di Desa Meulingge ini. Tertanggal dari 13 sampai 20 Agustus kami di sana. Berbicara, mendengar, memberi, menerima, dan bertindaklah yang telah kami lakukan. Semoga apa yang telah kami lakukan menjadi bekal tersendiri bagi kami dimasa kini dan masa depan, untuk lebih membuka mata dan saling peduli. Juga menjadi berkah dan faedah bagi penduduk desa dimasa kini dan masa depan atas sedikitnya hal yang kami lakukan.

Hari-hari yang tidak akan kami lupakan sampai akhir hayat kami. Desiran ombak pantai, bau laut yang khas, senyuman manis anak kecil, tawa heboh penduduk desa, dan senja di desa Meulingge.











Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review buku "PENANCE", hasil karya Minato Kanae

Ini review pertama gue di blog ini. Bukan mau sok-sokan nge-review sih. Ada alasannya gue mau nge-review buku ini. Pertama, gue suka banget karya Minato Kanae yang judulnya 'Confessions'. Buku itu sakit, parah, gila banget deh pokoknya. Lu mesti baca. LU MESTI BACA!!! Kedua, karena udah suka sama buku itu, gue penasaran dengan karya Minato Kanae yang lain. Yakni, buku ini. Ketiga, gue udah lama gak update di blog ini. Banyak, kan? Mungkin selanjut-selanjutnya, gue juga bakalan review buku-buku lain. Atau film, tv series, atau review Iphone 12 kek gitu misalnya. Bisa jadi. Blog gue, jadi blog review gadget nantinya. Halo! Bojes di sini! Wkkwkw. Pokoknya, langsung aja lah ya... PLOT: Sekumpulan anak kecil, perempuan semua sih. Sae, Maki, Akiko, Yuko dan Emily. Emang agak jomplang ya namanya. Itu tuh kek, Bambang, Rahmet, Dadang dan Michael. Oke, balik lagi ke plot awal.  Mereka tinggal di sebuah desa kecil, di negara Jepang tentunya. Pada suatu hari, ketika mereka sedang bermain ...