Sebenarnya inspirasi awal saya menulis ini adalah ketika dosen Psikologi saya menerangkan sebuah percobaan mengerikan yang dilakukan oleh Stanley Milgram, seorang profesor psikologi dari Universitas Yale di negara bagian Connecticut, Amerika Serikat. Percobaan ini biasa disebut dengan Milgram Experiment. Benak saya langsung tertuju pada sebuah kejadian yang pernah saya saksikan dengan mata kepala sendiri di sekolah saya dulu. Cukup berkaitan dengan apa yang dosen saya ceritakan.
Mungkin, orang-orang
yang berkecimpung dalam bidang Psikologi sudah tidak asing dengan experimen
yang dilakukan pada tahun 1963 ini. Dan tentunya sudah tidak asing dengan
Stanley Milgram juga. Dia mengadakan percobaan ini, tepat setelah sidang
peradilan terhadap kriminal Perang Dunia II, Adolf Eichmann
dilaksanakan. Eichmann yang adalah seorang Nazi, diadili karena perbuatannya yang telah
membunuh banyak orang dalam genosida kaum Yahudi atau yang biasa disebut, Holocaust.
Eichmann berdalih, bahwa ia hanya menuruti perintah atasannya. Peristiwa
ini menjadi alasan bagi Stanley Milgram untuk melakukan percobaan.
Dia ingin meneliti,
apakah manusia cenderung taat (Obidience) dalam diberikannya sebuah
otoritas, meskipun otoritas tersebut mengandung kekejaman dan bertolak belakang
dengan keinginannya, seperti apa yang didalihkan oleh Adolf Eichmann.
Percobaan ini melibatkan
tiga jenis orang: Experimenter (Peneliti
yang bekerja dibawah Stanley Milgram), subjek percobaan (40 orang relawan yang
dibayar) dan Experimenter yang berpura-pura menjadi relawan. Ketiga jenis
orang tersebut mengisi tiga peran yang berbeda:
1. Experimenter sebagai pengawas
2.
Subjek
percobaan (Relawan bayaran) sebagai guru
3.
Experimenter
yang berpura-pura sebagai Murid
Pemilihan peran ini
sebenarnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Stanley, karena pada dasarnya
Subjek utama diarahkan pada Relawan bayaran. Mereka melakukan undian untuk
pemilihan peran yang Nampak adil. Sehingga Relawan bayaran percaya bahwa
perannya dalam percobaan ini adalah seorang guru, tanpa rekayasa dari pihak
peneliti. Merek tidak tahu, bahwa pemeran yang akan menjadi murid sebenarnya
sudah diatur.
Percobaan pun dimulai,
“guru” dan “Murid” dipisahkan diruangan yang berbeda di mana mereka bisa
berkomunikasi tetapi tidak bisa melihat satu sama lain. Sedang “Experimenter”
berada diruangan yang sama dengan guru tepat dibelakangnya. Guru diberi tahu,
bahwa murid duduk dengan diikat Elektroda yang tersambung dengan mesin kejut listrik
yang ada didepan sang guru.
Murid diminta untuk
menghafal daftar pasangan kata yang diberikan kepadanya untuk dipelajari, Guru
mengetesnya dengan mengatakan sebuah kata dan meminta Murid untuk mengingat pasangan-pasangannya
dari empat pilihan yang memungkinkan. Guru diminta untuk memberikan kejutan
listrik setiap kali pelajar melakukan kesalahan, bahkan meningkatkan tingkat kejutannya
dipertanyaan yang selanjutnya. Ada 30 saklar pada mesin kejut listrik yang
ditandai dari 15 volt (Paling kecil) sampai 450 (Paling besar). Jika benar,
guru akan membaca pasangan kata berikutnya.
Guru dibuat percaya
bahwa untuk setiap jawaban yang salah, Murid menerima kejutan listrik yang
sebenarnya. Pada kenyataannya, Murid yang merupakan Experimenter, berpura-pura
kesakitan ketika dia melakukan kesalahan. Yang bahkan cenderung sengaja
melakukan kesalahan.
Setelah tegangan kejutan
listrik ditingkatkan ke saklar yang cukup tinggi, Murid mulai berteriak
kesakitan dan menggedor-gedor dinding yang memisahkan dia dari Guru dan Experimenter.
Beberapa diantaranya bahkan mengeluhkan kondisi jantung mereka.
Beberapa Guru ingin berhenti
di 135 volt dan mulai mempertanyakan tujuan percobaan. Beberapa Guru
melanjutkan percobannya setelah diyakini tidak akan dimintai pertanggung
jawaban dari percobaan ini. Beberapa Guru juga mulai tertawa gugup atau
menunjukkan tanda-tanda stres setelah mereka mendengar jeritan kesakitan yang
berasal dari Murid.
Ketika guru menolak
untuk memberikan kejutan, Experimenter akan memberikan rangkaian
perintah agar guru terus melanjutkan.
Ada empat perintah
yang jika tidak dipatuhi guru, maka eksperimenter akan membacakan perintah
berikutnya, dan seterusnya. Empat perintah tersebut adalah:
1.
Silakan
lanjutkan.
2.
Percobaan
mengharuskan Anda untuk melanjutkan
3.
Sangat
penting bahwa Anda melanjutkan
4.
Anda tidak
punya pilihan lain kecuali melanjutkan.
Jika setelah ke-empat
perintah tersebut telah disebutkan namun Guru tetap menolak, percobaan akan
dihentikan.
Hasilnya, 65 % (26
dari 40) subjek percobaan (Relawan bayaran yang menjadi Guru) melakukan kejutan listrik hingga 450 volt, meskipun banyak yang sangat tidak nyaman
melakukannya. Beberapa diantaranya mengatakan tidak akan menerima uang bayaran atas
partisipasi mereka dalam percobaan ini. Selama percobaan, subjek menampakkan
berbagai tingkat ketegangan dan stres. Ada yang berkeringat, gemetar, gagap,
menggigit bibir, mengerang, menggigit kuku dan beberapanya bahkan tertawa gugup
atau kejang.
Begitulah kurang
lebih percobaan tersebut berlangsung. Lantas, apa hubungannya dengan kejadian
yang saya alami?
Sebelumnya, saya
ceritakan terlebih dahulu dari awal. Saya bersekolah disebuah Pesantren di Jawa
Barat, yang menerapkan sistem hukum sebagaimana Pesantren biasanya. Dalam tahun-tahun
terakhir saya, Sekolah mendapati kejadian yang cukup besar dan mengagetkan.
Salah-satu ruangan belajar Sekolah setengah terbakar, dengan ditemukannya
beberapa puntung rokok disekitarnya. Beruntung, masyarakat sekitar mampu
memadamkan api sebelum api membesar.
Pihak Sekolah
mengumpulkan beberapa anak yang dicurigai (Anak-anak yang diketahui perokok),
dikumpulkan dalam sebuah Masjid untuk ditanyai satu persatu. Sekitar dua puluh
anak laki-laki, telah ditanyai satu persatu namun tak ada yang mengaku bertanggung
jawab untuk kejadian tersebut. Berbagai macam bujukan dan rayuan nampaknya
tidak membuat mereka mau mengaku. Salah seorang guru yang nampak oleh saya
sudah “jengah” dengan ini, maju lalu memerintahkan mereka untuk berjajar rapih
menghadap kearah yang sama. Dia menampar anak yang paling dekat dengannya, lalu
dia memerintahkan anak tersebut untuk menampar teman yang ada disebelahnya,
dengan sentuhan “Kalau kamu tidak menampar dia lebih keras dari tamparan saya, saya yang akan
menampar kamu lebih keras dari tadi.”
Begitu
selanjutnya sampai anak yang terakhir dari jajaran. Lebih dari 15 menit mereka
saling tampar, saling beradu mulut, saling beradu untuk lebih keras
tamparannya, bahkan beberapa diantaranya ada yang menangis. “Kamu kan tadi
terakhir dari kelas!” atau “Kamu kan yang tadi disuruh beli rokok!”, mereka
terus berseteru antar sesama mereka dengan masih saling menampar sesuai dengan
jajaran. Yang saya yakin, mereka pun tidak tahu siapa pelakunya kecuali sang
pelakunya sendiri. Hingga akhirnya, seorang anak paling kecil diantara jajaran
tersebut mengaku sebagai pelakunya. Saya dan teman-teman saya, tertawa geli
melihat kejadian itu.
Betapa tidak?
Mereka adalah anak-anak yang kebanyakan dari mereka, adalah dalam satu asrama
yang sama. Kedekatan diantara mereka tak pernah saya ragukan dikehidupan mereka
sehari-hari dilingkungan pesantren. Tapi hanya karena sebuah “Stimulan”
berupa ancaman akan lebih keras ditampar, mereka saling tampar seakan tak
mengenal satu sama lain. Sebagaimana yang terjadi pada Milgram Experiment,
sebagian besar relawan yang berperan menjadi guru, dengan dorongan Experimenter
dibelakangnya dan juga bayaran uang, mereka melakukan kejut setrum tanpa
melihat dari sisi kemanusiaan.
Manusia terkadang
tidak membutuhkan Stimulan untuk melakukan sesuatu. Akan tetapi, untuk lebih
kuat dan kokohnya manusia melakukan sesuatu, manusia membutuhkan stimulan. Stimulan
yang ingin Stanley buktikan adalah stimulan yang berasal dari otoritas. Jika
dibentuk dalam sebuah kalimat, “Manusia cenderung mematuhi perintah dari
orang lain jika mereka mengakui otoritas mereka secara moral benar atau
berdasarkan hukum.”
Praktek ini
sebenarnya sudah mendarah daging pada diri manusia. Seperti ancaman kepada anak
yang tidak akan diberi uang saku jika tidak makan oleh orang tuanya, atau anak
Sekolah yang akan dihukum OSIS jika tidak memakai seragam sekolahnya. Namun
Stanley (Dan guru saya, mungkin?) membawa praktek ini ke dalam cakupan yang
lebih spesifik. Stanley ingin menunjukkan sisi gelap terdalam sesungguhnya yang
manusia miliki. Hal yang sebenarnya tidak diinginkan untuk dilakukan,
menjadi sebuah pembeda jika otoritas yang berkehendak. Jadi.. Apakah kita
setuju, bahwasanya kita memang benar-benar cenderung penurut?
Komentar
Posting Komentar