Langsung ke konten utama

J’Accuse… Tulisan sebagai alat pemantik kesadaran masyarakat


Pernah gak sih, Kita memikirkan hal-hal kecil berakibat baik yang kita lakukan melalui tulisan kita? Gak usah jauh-jauh Jurnal atau Artikel deh, melalui pesan singkat dari WhatsApp misalnya, kita memberi tahu teman kampus kita bahwa “Besok, Dosen Sejarah tidak akan hadir!”. Hal sekecil itu terkesan biasa saja, tapi jika teman kita tidak kita beri tahu, bisa jadi dia akan pergi ke kampus dan mendapati tidak ada siapapun disana. Dia akan merasa bingung, kurang beruntung, atau mungkin marah? Karena sudah tanggung ada di kampus, dia akan mengirim pesan padamu bertanya tentang kelas hari ini. Dan kamu akan menjelaskan bahwa Dosen Sejarah berhalangan hadir. Nah? Pada akhirnya akan bersambung pada tulisan juga.

Itu hanya sebagian kecil dari makna atau arti sebuah tulisan yang bisa kita temukan sehari-hari dikehidupan kita. Sampai sini, kita setuju itu adalah hal kecil yang bermakna, kan?

Sekarang saya akan bawa pembaca sekalian pada sebuah skandal besar (Yang mungkin sebagian dari kalian sudah tahu) dinegara Perancis, pada sekitar tahun 1800-an. Orang-orang beranggapan bahwa skandal ini sebagai salah-satu “Krisis Politik” paling bobrok yang pernah ada dalam sejarah, khususnya Perancis. Kasus ini disebut “Dreyfuss Affair” (Skandal Dreyfuss).

Berawal dari ditemukannya surat yang disobek pada sebuah tempat sampah, di markas tentara Perancis. Setelah diselidiki,  berkas-berkas tersebut berisikan informasi-informasi intelejen tentang Perancis yang dimaksudkan untuk Jerman. Diketahui juga surat itu dikirim dari dan oleh Jendral markas Tentara tersebut. Sontak hal ini membuat geger Markas tersebut. Setelah dilakukan berbagai penyelidikan, Kapten Alfred Dreyfuss dinyatakan bersalah  oleh Mayor Hubert-Joseph Henry, pimpinan pada saat itu. Dia diasingkan disebuah pulau bernama Devil’s Island.

Namun, Pernyataan bersalah kepada Alfred Dreyfuss tersebut, diduga karena latar belakang yang dia punya. Dia adalah satu-satunya Jendral yang berasal dari kaum Yahudi, yang mana adalah minoritas di Perancis. Pada zaman itu juga, sentimen beberapa masyarakat kepada kaum Yahudi sangatlah buruk. Sialnya, semua komponen di markas tentara kebanyakan adalah dalam golongan tersebut. Golongan ini biasanya disebut Anti-Sematic (Anti Yahudi).

Bukti yang dikumpulkan pun, sangat tidak masuk akal dan cenderung mengada-ada. Rumah Alfred Dreyfuss digeredah, berkas-berkas penting miliknya diselidiki satu persatu. Namun yang dijadikan barang bukti adalah berupa “Tidak ditemukannya bukti, oleh karena itu dinilai kelicikan menyembunyikan bukti” dan ditemukannya sertifikat belajar bahas Jerman.

Banyak orang yang tidak tinggal diam dengan kejadian ini. Seperti kakak dari Alfred Dreyfuss sendiri, Mathieu Dreyfus yang mengumpulkan bukti-bukti ketidak-bersalahan adiknya, dan juga Georges Picquart salah seorang petinggi dimarkas tentara yang mengesampingkan sentimen dirinya yang sebenarnya adalah anti-Yahudi, dia menemukan bahwa surat-surat yang menuju Jerman masih tetap berlanjut bahkan ketika Alfred Dreyfuss sudah ada dipengasingannya. Georges Picquart menemukan bahwa pelaku sebenarnya adalah Ferdinand Walsin Esterhazy. Keduanya tidak mendapatkan apa-apa selain penolakan dari markas tentara. Bahkan Georges Picquart, dikabarkan dijebloskan ke dalam penjara oleh pimpinan markas tentara tersebut dengan alasan penentangan keputusan pimpinan markas.

Kabar ini menyebar sampai kesemua golongan yang ada di Perancis. Orang-orang terbelah menjadi dua kubu, kubu yang menentang hukuman pada Alfred Dreyfuss (Atas dasar kemanusiaan) dan kubu yang mendukung hukuman  tersebut (Atas dasar sentimen).

Dalam fase berikutnya lah hal yang saya singgung soal arti dari sebuah tulisan diatas. Emile Zola, seorang sastrawan Perancis pada zaman itu menulis surat terbuka untuk sang Presiden yang berjudul J’Accuse… “Saya menggugat.” Isi surat tersebut tentunya adalah gugatan kepada Presiden dan Tentara atas ketidak-adilan yang dilakukan kepada Alfred Dreyfuss. Dia juga mengungkapkan rasa sakit hatinya atas keputusan pengasingan yang tidak berdasar tersebut. Surat terbuka tersebut tersebar keseluruh penjuru negeri melalui koran lokal disana. Sontak surat terbuka tersebut membuat gempar bahkan sampai  keseluruh dunia. Setelahnya, Emile Zola melarikan diri ke Inggris setelah terbitnya surat penangkapan atas tudahan beratnya pada Pemerintah dan Tentara.

Masyarakat yang menentang pengasingan Alfred Dreyfuss bagaikan dipantik, mereka melancarkan demo besar-besaran menuntut untuk keadilan Alfred Dreyfuss dan menuntut perbaikan dari bobroknya hukum dinegara mereka.  Demo demi demo, pemberontakan demi pemberontakan berlangsung. Dengan desakan-desakan yang beruntun tersebut, barulah pada tahun 1899 hukuman Alfred Dreyfuss dikurangi. Dalam kabar yang lain, Dreyfuss dikatakan dibebaskan pada tahun itu juga. Beberapa tahun setelahnya, Alfred Dreyfuss kembali menjadi tentara dan berperan dalam perang dunia 1 untuk Perancis.

Bayangkan, jika Emile Zola tidak menulis surat terbuka tersebut? Mungkin sampai saat ajalnya Alfred Dreyfuss masih akan tetap dipulau tersebut. Mati dengan tanpa tahu apa kesalahannya. Dan mungkin juga Perancis akan tetap menjadi negara yang saya ceritakan citranya disini. Siapa tahu?

Sebuah pantikan besar menimbulkan efek yang tak kalah besar. Bukan hanya pidato lantang yang bisa menggerakkan jutaan massa, Tulisan kita bisa merubah dunia. Sekarang ambil pensil atau mesin ketik kita masing-masing, Persiapkan tempat yang nyaman untuk menulis, lalu tanyakan pada diri kita sendiri.. “Apa yang akan aku ubah dengan tulisanku?”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review buku "PENANCE", hasil karya Minato Kanae

Ini review pertama gue di blog ini. Bukan mau sok-sokan nge-review sih. Ada alasannya gue mau nge-review buku ini. Pertama, gue suka banget karya Minato Kanae yang judulnya 'Confessions'. Buku itu sakit, parah, gila banget deh pokoknya. Lu mesti baca. LU MESTI BACA!!! Kedua, karena udah suka sama buku itu, gue penasaran dengan karya Minato Kanae yang lain. Yakni, buku ini. Ketiga, gue udah lama gak update di blog ini. Banyak, kan? Mungkin selanjut-selanjutnya, gue juga bakalan review buku-buku lain. Atau film, tv series, atau review Iphone 12 kek gitu misalnya. Bisa jadi. Blog gue, jadi blog review gadget nantinya. Halo! Bojes di sini! Wkkwkw. Pokoknya, langsung aja lah ya... PLOT: Sekumpulan anak kecil, perempuan semua sih. Sae, Maki, Akiko, Yuko dan Emily. Emang agak jomplang ya namanya. Itu tuh kek, Bambang, Rahmet, Dadang dan Michael. Oke, balik lagi ke plot awal.  Mereka tinggal di sebuah desa kecil, di negara Jepang tentunya. Pada suatu hari, ketika mereka sedang bermain ...