Langsung ke konten utama

Ratatouile, Paris dan Masakan

Pernah menonton film “Ratatouile”? Film Disney keluaran tahun 2007 ini sempat BOOMING sewaktu saya kecil. Apalagi beberapa tahun setelah tayang perdana di Bioskop, film ini sering diputar di Televisi-televisi swasta. Tak heran saya cukup hafal detil-detilnya, karena menontonnya berulang-ulang kali. Dan mungkin, saya tak pernah merasa bosan menontonnya.




Film ini menceritakan seekor tikus bernama Remy, yang mempunyai Passion dalam memasak. Passion-nya dalam memasak ini, tidak datang begitu saja. Remy sering menonton Televisi yang menampilkan acara masak, disebuah rumah yang dia dan komplotan tikus lainnya tumpangi. Dalam acara masak yang sering dia tonton, ada seorang koki Profesional yang menjadi panutannya. Seorang koki besar bernama Auguste Gusteau. Untuk yang belum menonton film ini, segera tonton ya!

Dikatakan dalam film, Setelah restoran milik Gusteau dikritik oleh kritikus Restoran bernama Anton Ego, restoran miliknya harus menerima kehilangan predikat bintangnya. Gusteau merasa sakit hati dan meninggal tak lama setelahnya. Yang belum menonton, jangan takut ya! Ini bagian paling dan satu-satu yang sedih dalam film ini.

Nah, film ini juga yang saya ingat ketika mendengar cerita dari sebuah buku yang saya baca. Perancis selain dikenal sebagai negara yang romantis (Karena kota Paris), juga dikenal karena kekayaan hidangan makanan yang enak dan mewah. Dimulai pada abad ke-18, dimana Perancis sedang gencar-gencarnya mencari wajah yang baru untuk dipamerkan sebagai identitas negara ini. Pada tahun-tahun tersebut, terbilang banyaklah restoran-restoran yang menjual berbagai hidangan dari yang enak sampai terenak. Beberapa Chef terkenal sering kali direkrut atau diundang untuk memasak di istana. Budaya masak memasak ini sudah sangat melekat di Perancis, sehingga menimbulkan rasa bangga tersendiri bagi rakyatnya.

Tersebutlah seorang koki pribadi milik pangeran Louis II de Borbon, bernama François Vatel. Vatel menusuk dirinya sendiri sampai mati, dalam sebuah jamuan makan besar. Jamuan tersebut adalah undangan Louis II de Borbon kepada Louis XVII Raja pada saat itu. Alasannya, Vatel merasa gugup, bingung dan malu ketika dua panggangan yang dilakukannya gagal dan ikan-ikan yang dipesannya belum datang. Jasad Vatel ditemukan oleh kru-nya, yang memberitahukan kedatangan ikan-ikan yang dipesannya.

Mungkin para pembaca berpikir, perbandingan yang saya beri antara François Vatel dan Auguste Gusteau Tidaklah begitu mirip. Secara garis besar, harusnya memang mirip. Betapa orang Perancis mempunyai sebuah prestise tersendiri mengenai hidangan yang dibuatnya. Betapa mereka simpan hati mereka pada apa yang dibuatnya. Tapi ada satu cerita lagi, yang saya pikir cukup mirip dengan apa yang digambarkan dalam film Ratatouile.

Terjadi pada zaman yang jauh lebih modern lagi dari abad ke-18, yaitu tahun 2003. Adalah Bernard Loiseau, yang menembak dirinya sendiri karena hilangnya bintang Michelin (Gelar bergengsi yang dimiliki restoran-restoran tertentu.) milik restorannya. Yahh.. Mungkin ada kisah-kisah lain yang tidak saya ketahui, atau mungkin tidak ada kisah-kisah lain selain ini.

Entah dengan kata apa saya me-label-kan mereka. Dedikasi? Komitmen? Tapi pada intinya, fenomena ini mungkin bisa menjadi bukti bahwa Perancis memang cocok jika menyandang sebagai negara pembuat koki-koki terhebat. Setuju? Saya sendiri tahu dengan salah seorang Koki besar Perancis bernama Paul Bocuse, yang sering dibanding-bandingkan dengan koki-koki dari negara lain. Dia dianggap sebagai Muhammad Ali-nya dunia masakan. Dan, hey.. Chef Renata dalam acara Masterchef Indonesia pun, belajar di Perancis.
Kita juga kenal dengan sebuah Stereotype yang terkesan bahwa, Orang Perancis sangat pandai dalam memasak. Seperti yang sering kita tonton dalam acara-acara TV, atau dalam buku-buku yang kita baca. Dan setelah dipikir-pikir lagi, mungkin memang benar.

Jadi, apa masakan Perancis favorit kalian?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review buku "PENANCE", hasil karya Minato Kanae

Ini review pertama gue di blog ini. Bukan mau sok-sokan nge-review sih. Ada alasannya gue mau nge-review buku ini. Pertama, gue suka banget karya Minato Kanae yang judulnya 'Confessions'. Buku itu sakit, parah, gila banget deh pokoknya. Lu mesti baca. LU MESTI BACA!!! Kedua, karena udah suka sama buku itu, gue penasaran dengan karya Minato Kanae yang lain. Yakni, buku ini. Ketiga, gue udah lama gak update di blog ini. Banyak, kan? Mungkin selanjut-selanjutnya, gue juga bakalan review buku-buku lain. Atau film, tv series, atau review Iphone 12 kek gitu misalnya. Bisa jadi. Blog gue, jadi blog review gadget nantinya. Halo! Bojes di sini! Wkkwkw. Pokoknya, langsung aja lah ya... PLOT: Sekumpulan anak kecil, perempuan semua sih. Sae, Maki, Akiko, Yuko dan Emily. Emang agak jomplang ya namanya. Itu tuh kek, Bambang, Rahmet, Dadang dan Michael. Oke, balik lagi ke plot awal.  Mereka tinggal di sebuah desa kecil, di negara Jepang tentunya. Pada suatu hari, ketika mereka sedang bermain ...